Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2008

Blogger = Hacker ?

Hanya di Indonesia! Seorang pakar telematika (telekomunikasi dan informatika) –ngakunya– tidak tahu perbedaan antara blogger dan hacker (apalagi antara hacker dan cracker).
Dari detikinet :

Jakarta – Situs Depkominfo menjadi korban pertama reaksi hacker tanah air atas disahkannya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Wajah Roy Suryo muncul dalam aksi deface di situs itu. Menurut Roy, pelakunya adalah ‘mereka’. Siapa ‘mereka’ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008). Ketika ditanya langkah apa yang bakal diambil menanggapi kejadian ini, Roy mengatakan masih menunggu action Depkominfo. “Saya gak mau terpancing, hacker dan blogger gak pernah saya anggap. Paling saya akan ada di belakang Kominfo, tunggu saja action saya,” lanjutnya, tanpa menyebut langkah yang bakal diambilnya lebih lanjut. Roy mengaku, sudah memprediksi akan terjadinya hal semacam ini sebagai bentuk ketidaksetujuan atas disahkannya UU ITE. “Banyak sekali milis (mailing list) dan blog yang menyuarakan tidak setuju, dan (reaksi) itu terjadi,” tukasnya. Depkominfo dan Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) pun diharapkan dapat langsung bereaksi dengan mengusut si pelaku. “Jangan-jangan ada pihak ketiga yang mau mengadu domba. Ini harus dicermati hati-hati sebagai ujian pertama,” Roy menandaskan.

Dari Kompas :

Di bagian hulu, kata dia, pemerintah harus memiliki kebijakan yang mewajibkan akses internet melalui satu provider resmi, dan harus dikenai pajak. “Dengan metode ini, kontrol dari pemerintah akan lebih mudah dilakukan, karena semua dapat terpantau,” katanya. Melalui sistem tersebut, kata Roy, apabila ada pelanggaran dapat segera diketahui dan bisa segera diblokir.Sedangkan di bagian hilir, pemerintah harus meningkatkan pendidikan terhadap masyarakat, sehingga dalam diri masyarakat muncul perlawanan yang menentang segala tindakan yang merugikan masyarakat seperti penyebaran pornografi dan informasi yang menyesatkan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa meski telah memiliki undang-undang, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan ada perlawanan dari para ’blogger’ dan ’hacker’ yang biasanya akan mengganggu sistem pemblokiran tersebut. “Saya yakin para blogger dan hacker pasti akan melakukan serangan terhadap sistem itu. Tetapi, kemungkinan ancaman tersebut bukan berarti melemahkan niat pemerintah,” katanya. (ANT)

Karakter asinan ™ lagi?

Yap, betul pembunuhan karakter untuk yang kesekian kalinya dari pakar satu ini. Dengan pernyataan-pernyataan seperti ini, seolah-olah menjadi seorang blogger ataupun seorang hacker itu merupakan sesuatu yang negatif. Selama ini media massa memang mengidentikkan hacker sebagai seorang yang kerjaannya menjebol situs/website dan mencuri data-data di dalamnya. Pernyataan pakar (siapa media Indonesia pertama yang menjulukinya pakar ya? Atau dia sendiri yang ngaku-ngaku?) ini memperkeruh anggapan orang awam mengenai apa itu hacker dan blogger.

Hacker dalam bidang komputer mempunyai pengertian positif yaitu seorang yang sangat ahli dalam bidang komputer. Misalnya Linus Torvalds, seorang hacker yang membangun Linux, Ken Thompson, Richard M Stallman dll. Mereka mempunyai kontribusi yang sangat penting dalam membangun sistem komputer sehingga kita sekarang dapat menggunakannya secara nyaman. Di lain sisi, ada yang namanya cracker. Merekalah yang disebut “hacker” di media massa (bukan di Indonesia saja). Eric S Raymond dalam essainya yang berjudul How to become a hacker menulis :

There is another group of people who loudly call themselves hackers, but aren’t. These are people (mainly adolescent males) who get a kick out of breaking into computers and phreaking the phone system. Real hackers call these people ‘crackers’ and want nothing to do with them. Real hackers mostly think crackers are lazy, irresponsible, and not very bright, and object that being able to break security doesn’t make you a hacker any more than being able to hotwire cars makes you an automotive engineer. Unfortunately, many journalists and writers have been fooled into using the word ‘hacker’ to describe crackers; this irritates real hackers no end.

Kesimpulannya satu : hackers build things ; crackers break them

Blogger adalah orang yang menulis blog. Blog kependekan dari weblog adalah website yang masukannya ditata secara kronologis. Isi dari blog beragam sesuai dengan keinginan blogger pembuatnya. Belakangan kata blog menjadi kata kerja, to blog yang artinya mengelola isi blog. Seorang blogger tidak perlu mengerti tentang sistem operasi, jaringan dan keamanan komputer. Jadi nge-blog itu adalah positif, sangat-sangat positif. Pak BR saja mewajibkan mahasiswa mata kuliahnya untuk menulis blog supaya nantinya dapat menulis dengan baik.

Hacker pengertiannya positif, blogger juga. (Real) hacker tidak akan merusak suatu sistem, apalagi blogger (hah! banyak lho blogger yang tidak tau apa-apa soal jaringan komputer) . Jadi pernyataan seperti kutipan di Kompas dan Detikinet itu sangat-sangat NGAWUR. Media massa, carilah narasumber yang kredibel supaya informasinya valid! Pakar yang benar-benar pakar pada bidangnya bukan “pakar” telematika satu ini yang tidak dapat membedakan blogger dan hacker.

Update (31/3/08)

Dari Kompas

Jumat, 28 Maret 2008 | 20:33 WIB

JAKARTA, JUMAT – Pakar telematika Roy Suryo mengungkapkan perbuatan para hacker dan blogger menyusup ke situs Partai Golkar dan Departeman Komunikasi dan Informatika yang menampilkan foto dirinya bersama dua perempuan bule dalam keadaan telanjang dada merupakan tindakan pengecut. “Bagi saya pribadi ini adalah tindakan pengecut para hacker dan blogger. Saya hanya korban sekunder. Korban primernya ya Depkominfo dan Partai Golkar. Hacker dan Blogger jelas ada di balik kasus ini. Karena mereka paling nggak setuju dengan pengesahan UU ITE,” ujar Roy Suryo yang dihubungi kompas.com melalui telepon. Ia menambahkan, tindakan pengecut para hacker dan blogger juga bisa dilihat dari tindakan mereka yang tidak langsung menyerang website yang supervisi oleh dirinya. “Kasihan Depkominfo, kasihan Partai Golkar. Mereka tidak salah tapi jadi sasaran mereka padahal saya nggak di belakang situs tersebut. Kenapa nggak situsnya Presiden SBY atau Partai Demokrat yang diserang dimana jelas-jelas saya menjadi supervisornya,” tambah Roy. Ditanya mengenai mengapa dia yang menjadi sasaran para hacker dan blogger, Roy menjelaskan karena dia adalah salah satu orang yang paling keras menyuarakan perlunya UU ITE di Indonesia untuk segera disahkan. “Saya salah satu orang yang paling keras menyuarakan UU ITE, dan itu jelas bertentangan dengan para hacker dan blogger. Mereka menganggap UU ITE melanggar prinsip kebebasan,” tegas Roy. Dia menjelaskan bahwa blogger di Indonesia yang usil mengacak-acak situs orang lain adalah mereka yang tidak memiliki tempat di media massa. Blogger-blogger tersebut menurut Roy merusak citra para blogger Indonesia yang benar-benar ingin menjadikan blog sebagai media yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kejadian ini Roy berharap Depkominfo, Partai Golkar dan Mabes Polri mengusut kasus ini. “Ini bisa menjadi test case UU ITE yang baru disahkan satu minggu ini. Perbuatan tersebut berdasar UU ITE bisa dikenai pasal karena telah merusak informasi milik negara,” ujar Roy.

Yeah rite(tm)! Sang pakar kembali berkoar-koar di media massa. Kembali ia menuduh hacker dan blogger adalah biang kerok deface situs Depkominfo dan Golkar. Bahkan kali ini dia jelas-jelas mengatakan bahwa hacker dan blogger adalah pelakunya! Tanpa adanya bukti secuilpun! Paparkan bukti-buktinya kalau bisa dan kalau sudah terbukti pelakunya hacker dan blogger kan sudah ada UU ITE. All we (bloggers) need is your proof that WE (bloggers) deface the website! Not your statement! Kedua, sang pakar menebarkan taktik adu domba dengan kalimat yang secara tersirat bermaksud : “Cracklah website yang saya supervisi!”.  Disini ia membawa nama SBY dan Partai Demokrat. Pada berita di detik.com (lihat atas), tertulis bahwa harus hati-hati karena ada pengadu domba. Nyatanya dia sendiri adalah pengadu dombanya. Ketiga, sang pakar mengatakan bahwa dia salah satu yang paling keras mendukung disahkannya UU ITE dan bahwa hacker dan blogger adalah penentang UU tersebut karena dianggap melanggar asas kebebasan. Khas sekali! Karakter asinan ™ keluar lagi. Dia dapat darimana data yang menyebutkan bahwa semua hacker dan blogger menentang UU ini. Saya yakin 68% dia cuma ngomong kosong, seperti dulu (2005) dia mengungkapkan bahwa 68% data di Friendster palsu. Keempat, sang pakar mengatakan bahwa blogger dan hacker yang usil tersebut tidak mendapat tempat di media massa dan mereka merusak citra blog yang positif. Pertanyaan 1 milyarnya : “Kalau blog itu positif, kenapa dari pertama dia membuat pernyataan bahwa “blogger” dan “hacker” akan merusak sistem sensor pemerintah?” Semakin terlihat sikapnya yang plin-plan. Kali ini dia menjilat kepada blogger dengan mengatakan bahwa itu positif, kemarin dia menghina blogger. Terus kalau tidak mendapat tempat di media massa lalu kenapa? Apakah dengan diliput terus-menerus itu sesuatu yang HEBAT? Saya, blogger, punya media sendiri yaitu blog ini. Tidak butuh diliput “media massa” kalau hanya ingin menuliskan sesuatu. Tidak seperti KAMU yangmembutuhkan orang lain (media massa) supaya terkenal. Akhir kata, saya ulangi lagi himbauan kepada wartawan media massa supaya jangan terus meliput omong kosong “Pakar” ini lagi. Kalau ingin berita yang benar-benar valid, carilah pakar yang benar-benar pakar yang kompeten di bidangnya. Update (3/4/2008) Sebelumnya saya kutip quote dari Einstein :

“Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former.”

Kembali lagi sang (wannabe) pakar telematika kembali berkoar-koar dengan omong kosongnya. Dan kali ini sudah menuduh blogger seperti Enda, Priyadi dan Eko Juniarto sebagai otak dibalik serangan terhadap situs Depkominfo. Tentu saja tanpa secuilpun bukti yang diungkapkan.

Potongan berita dari Okezone :

Namun, lanjutnya, ada juga blogger yang negatif, seperti Enda Nasution. Roy menuding kemungkinan besar Enda Cs berada dibalik ‘serangan’ terhadap situs Depkominfo dan Partai Golkar.

Tapi, pakar telematika itu menolak memastikan waktu pengungkapan pelaku pembobol dua situs tersebut. “Pelakunya akan terbukti. Biar waktu yang akan membuktikan,” ujarnya diplomatis.

Sependek yang saya tahu, menuduh orangmelakukan suatu tindak kejahatan tanpa adanya bukti adalah FITNAH. Dengan posisinya sebagai orang politik, mudah saja meminta log server dari situs yang diserang. Dengan adanya log tersebut, analisa terhadap penyerang dapat dilakukan. Tetapi mengingat bahwa dia membutuhkan bantuan tim Air Putih hanya untuk menganalisa hasil whois dan log server yang bisa bejibun banyaknya, rasanya mustahil dia dapat melakukannya sendirian. Tapi mungkin saja, wong lagu Indonesia Raya 3 stanza dapat dia temukan di server Belanda :-).

Oya, ada wawancara yang dilakukan radio Elshinta terhadap (wannabe) pakar ini.  Transkripnya dapat didunduh di sini. Isinya secara garis besar :

– dia dapat menduga bahwa diserangnya situs Depkominfo berkaitan dengan disahkannya UU ITE. (Nggak perlu gelar pakar untuk mengetahui ini)

– hacker Indonesia tidak dapat membuat hal-hal yang positif (pasti belum kenal Jim Geovedi (pernah bersama-sama  sang  ‘wannabe’ pakar menjadi pembicara seminar tentang cybercrime di UKSW tahun 2006, Salatiga, mantainer beberapa tools di FreeBSD), belum mengerti project-project dari hacker Indonesia yang dihosting di sourceforge.net atau juga belum pernah menggunakan tools open source)

– blogger Indonesia  membuat blog yang isinya celotehan tidak bermutu (dan celotehannya sendiri bermutu? banyak blog post yang isinya panduan dalam berkomputer, membuat server, menangkal virus, utak-atik motor, cerpen/puisi, panduan pelajaran, tentang hukum, ekonomi, fisika, matematika, kimia sampai resep masakan. Semakin terlihat dendam pribadi pada blogger Indonesia yang pernah mendedikasikan Valentine 2005 kepadanya)

– dia turut menyusun UU ITE (pantas saja hasilnya kacau)

– hack itu artinya ngerjain (Kira-kira si ‘wannabe’ pakar belajar IT nya dimana ya?Atau nggak punya kamus Inggris-Indonesia barangkali. To hack itu artinya mbacok!)

– dia dicemoohkan karena ingin membantu masyarakat (membantu apa? analisa foto dan video porno serta ngomong ngawur tidak direm kaya begitu dibilang membantu!)

– kalau A dia bilang A, kalau B dia bilang B (masih ingat kasus foto bugil Artika Sari Devi anyone?)

– blogger awal seperti Enda Nasution, Priyadi Iman Nurcahyo dan Eko Juniarto menjelekkan kebijakan pemerintah (buktinya mana pak? menjelekkan atau mengkritisi? sepertinya ada dendam pribadi dengan tokoh-tokoh pionir blog di Indonesia ini.)

Seorang blogger bernama Riyogarta berinisiatif mengundang si ‘wannabe’ pakar dalam acara diskusi mengenai komentar negatifnya mengenai blogger Indonesia. Si ‘wannabe’ pakar akhirnya menyanggupi undangan ini asal :

“Dengan sangat senang, yang disebut ‘Dialog Terbuka’ adalah diskusi secara nyata dan bertanggung jawab,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (1/4/2008).

Roy memastikan siap hadir dalam acara itu secara profesional seperti layaknya acara seminar. “Tolong mereka menyiapkan tempat umum yang ilmiah seperti kampus, diliput media, dan hadir secara nyata. Saya tidak melayani diskusi maya,” tegas dosen UGM Yogyakarta itu.

dari Okezone

Pakar IT kok takut diskusi di dunia maya (yang notabene dunia para IT’ers).

Ok, acaranya sudah direncanakan.

Catat tanggal mainnya :

Hari : Selasa, 15 April 2008

Tempat : Universitas Budi Luhur, Jakarta

Waktu : 10.00 – selesai

Jangan KUTIP

Read Full Post »

Dyne:Bolic

Satu bulan ini sama Pak Boss diberi mainan baru : Dyne:Bolic.

Dyne:Bolic adalah distro linux live cd, maksudnya linux yang berjalan total dari CD, tidak perlu harddisk atau USB untuk menjalankannya, cukup sekeping CD (dan CD ROM tentunya). Dengan live cd, tidak perlu mengubah settingan pada PC, satu-satunya perubahan yang perlu dilakukan pada PC adalah menyetel urutan boot supaya menggunakan CD.

Menurut pembuatnya, Dyne:Bolic dioptimasi untuk dijalankan pada komputer tua (minimal Pentium I dan 64 MB RAM). Mengemas kernel 2.6.18 yang dipatch untuk meningkatkan respon system (salah satunya dengan patch con kolivas). Pada paket standarnya, dyne:bolic mengemas dekstop manager XFCE yang sangat ringan serta aplikasi-aplikasi untuk audio dan video production (record, edit, encode and stream).

Sebagai live cd, tentu dijalankan lewat CD. Tetapi jika dijalankan dengan CD, kecepatan operasi akan terbatas pada kecepatan putar CD. Kalau begitu, apakah dyne:bolic dapat diinstall ke harddisk? Satu dari konsep dyne yang hebat adalah “docking“. Jika pada live cd lainnya, proses instalasi memakan waktu lama (lebih dari 15 menit) dan harus melakukan proses partisi harddisk (wow, sebuah langkah yang rumit bagi yang baru menggunakan komputer), proses instalasi dyne sangat sederhana. Anda browse cd dyne, kopikan direktori/folder dyne ke harddisk anda. Selesai. Lho kok selesai? Iya memang sudah selesai. Hanya itu yang perlu dilakukan. Jenis filesistem terserah, tidak harus linux native (ext2/3). NTFS? Bisa! FAT/FAT32? Bisa! Lantas bagaimana menjalankannya? Pertama booting dari cd, dyne script akan men-scan harddisk apakah ada direktori dyne di dalamnya. Jika ada, maka dyne script akan menjalankan program yang terdapat pada harddisk. Apabila ingin menggunakan bootloader (supaya tidak repot dengan cd), ada utiliti bernama grubconfig untuk membantu proses instalasi bootloader.

Media instalasi tidak hanya pada harddisk, pada USB flashdrive pun bisa (tentunya yang kapasitasnya 1 GB ke atas). Caranya sama dengan instalasi pada harddisk.

Konsep lain yang tak kalah hebatnya adalah “nesting“. Kelemahan livecd adalah konfigurasi yang fix, tidak dapat diubah-ubah. Dengan nesting, semua preferensi akan disimpan dalam sebuah file yang bernama dyne.nst. Jika ditemukan file ini, dyne script akan menanyakan apakah akan menggunakannya. Jawab saja yes. File dyne.nst dapat juga disimpan dalam flashdrive usb. Ukuran maksimalnya adalah 1024 MB alias 1 GB. Dengan nesting, cukup membawa 1 cd dyne:bolic dan 1 usb flashdrive yang berisi nest dan gunakan itu di sembarang komputer saat bepergian. Apalagi dyne.nst dapat diset dengan perlindungan enkripsi AES 256 bit.

Dyne:bolic menganut konsep modular. Modul-modul program diletakkan di /dyne/modules. Jika ingin menambah aplikasi cukup download file *.dyne dari sini, terus masukkan ke direktori /dyne/modules. Aplikasi siap dijalankan. Jika ingin menambah aplikasi lain, dyne:bolic menggunakan cara a la slackware : installpkg untuk binari. RPM dan DEB di-convert ke tgz menggunakan alien. Instalasi dari source sama seperti distro lain.

Sekian dulu untuk dyne:bolic. Download iso imagenya di sini.

NB. Gambar atas nyuri di http://dynebolic.org/

Read Full Post »