Kemarin di Metro TV jam 20.05 WIB ada acara Survey Padamu Negeri. Hadir sebagai pembicara adalah wakil dari Batan (lupa namanya) dan dari Marem (Masyarakat Reksa Bumi). Topiknya tentang pro kontra pembangunan PLTN di Muria.
Saya sih kontra terhadap pembangunan PLTN di Indonesia karena beberapa hal berikut :
Keamanan
Ini hal pertama yang dikhawatirkan pada PLTN. Menurut Pak Liek Wilardjo, PLTN ibaratnya sebuah bom nuklir yang dikendalikan. Salah sedikit saja dalam pengendaliannya dapat berakibat fatal. Bencana paling buruk yang pernah terjadi adalah di Chernobyl, Ukraina pada tahun 1986. Dalam bencana tersebut, reaktor nuklir meledak dan menimbulkan kerusakan yang hebat. Pencemaran yang ditimbulkan sampai seluas 200.000 kilometer persegi (500 kali luas kota Semarang atau sekitar 10% wilayah Indonesia). Korban jiwa manusia 30-60 orang yang meninggal seketika dan sampai sekarang dampaknya masih terasa (peningkatan jumlah penderita kangker thyroid di Ukraina dan Belarusia). Dampak ini sengaja dikecilkan oleh ketua Batan dalam tanggapannya di Kompas yang mengatakan bahwa korban Chernobyl hanya 30 orang dan tidak menyebutkan kerusakan lain dan kemungkinan terulangnya bencana hanya sepersekian juta persen. Sampai saat ini Chernobyl adalah kota mati (dulunya dihuni sekitar 14.000 orang).
Pendapat mereka yang pro PLTN mengatakan itu kan worst case scenario, skenario yang paling buruk. Rancangan reaktor sudah dibuat lebih aman beberapa kali lipat dibandingkan reaktor di Chernobyl dulu. Teknologi nuklir sudah maju pesat sehingga keamanannya dapat lebih ditingkatkan. Tapi apakah bisa dijamin 100% aman? Bencana Chernobyl telah memberikan gambaran tentang betapa menyeramkannya dampak yang ditimbulkan oleh keteledoran manusia. Apakah mau diulangi lagi di bumi Indonesia tercinta ini.
Perhatian pada keamanan ini tidak hanya pada saat reaktor sudah berjalan. Semua aspek juga harus diperhatikan. Pada penentuan tapak tempat membangun reaktor harus diselidiki apakah stabil dan tidak berada di daerah berpotensi bencana alam. Indonesia berada dalam gugus Pasific Ring Of Fire, barisan gunung api yang aktif dan dormant (keadaan tidak aktif). Pulau Jawa tempat PLTN dibangun juga berada dalam patahan aktif yang berpotensi gempa. Kemudian saat pembangunan reaktor. Pembangunan harus sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh ahli nuklir. Bukan rahasia lagi kalau pembangunan di Indonesia rawan korupsi. Uang untuk membeli bahan bangunan dikorupsi sehingga kualitas bangunan tidak sesuai standar. Bayangkan jika untuk membangun reaktor dibutuhkan 100 ton semen (misalnya lho, pasti jauh lebih banyak dari ini), lalu karena korupsi, hanya dipakai 80 ton. Wah apa jadinya?
(bukan merendahkan bangsa sendiri, tetapi hal inilah yang terjadi di masyarakat)
Lalu saat reaktor dioperasikan (selama 40 tahun), keadaannya harus dipantau selama 24 jam non stop. Hal ini membutuhkan kedisiplinan yang sangat tinggi karena jika lalai, hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Seperti dalam film fiksi tahun 1979 The China Syndrome, dalam film ini menceritakan tentang kesembronoan kontraktor pembangun mengakibatkan bencana (uniknya film ini dirilis 2 minggu SEBELUM terjadinya insiden di Three Miles Island dimana setengah inti reaktor TMI-2 meleleh).
Penanganan masalah limbah juga menjadi masalah yang belum terpecahkan oleh teknologi saat ini. Limbah nuklir hanya padatkan lalu disimpan di bawah tanah menunggu meluruh (waktu paruh sekitar 24.000 tahun). Memang sudah ditemukan teknologi Rubiatron sehingga waktu paruh dapat dipangkas menjadi 60 tahun saja, tetapi 60 tahun juga waktu yang lama dan selama itu tempat penyimpanan juga harus dimonitor 24 jam sehari 365 hari setahun. Kata Batan, limbah ini akan dikirim balik ke Amerika.
Setelah 40 tahun, reaktor mencapai titik lelah, tidak dapat dimanfaatkan lagi. Keadaan lingkungan akan dikembalikan seperti semula. Proses itu dinamakan decomissioning. Pak Liek Wilardjo dalam diskusi tanggal 11 Mei di UKSW mengatakan bahwa yang melakukan proses ini adalah orang-orang yang berani mati karena dalam proses ini, petugas akan terpapar radioaktif dalam jumah yang besar. Selain itu tapak bekas reaktor akan mengandung radioaktif selama bertahun-tahun.
Jadi siapa bilang bahwa nuklir adalah teknologi yang aman bagi lingkungan? Kalau memang aman dan ramah lingkungan bangun saja di halaman belakang kantor Batan (http://jalansutera.com/2006/09/12/pltn-aman-itu/).
Ketergantungan pada negara lain
Menurut saya, pembangunan PLTN akan menambah ketergantungan bangsa ini pada negara lain. Ada yang berpendapat bahwa jika Indonesia menguasai teknologi nuklir, akan menambah gengsi di dunia Internasional. Padahal, semua proses melibatkan negara lain. Mulai dari pembangunan, pengoperasian sampai pembersihan.
Soal bahan baku misalnya, memang ada tambang uranium di Kalimantan. Tetapi apakah sudah beroperasi? Selain hal tersebut, reaktor membutuhkan bahan uranium yang diperkaya karena uranium U-233 sangat langka di alam ini. Proses pengayaan ini dilakukan di mana? Apakah Indonesia boleh mengayakan uranium (ingat Iran dan Korea Utara yang terancam sanksi PBB karena membangun pabrik pengayaan uranium)? Kalau tidak boleh berarti hanya bisa membeli di negara lain. Artinya ketergantungan selama 40 tahun (masa hidup reaktor). Proses pengelolaan apakah ada bangsa ini yang menjadi satu-satunya supervisor? Soal limbah seperti di atas akan dikirim kembali ke AS jadi tidak ada komentar. Lalu soal pembersihan pada tahun 2054 nanti (asumsi 2016 sudah dioperasikan dan lifespan reaktor 40 tahun) apakah sudah direncanakan dengan matang?
Biaya yang mahal
Selama ini persepsi di masyarakat kalau sudah ada reaktor, biaya listrik jadi murah. Kebalikannya, biaya listrik yang dihasilkan reaktor nuklir lebih mahal daripada pembangkit konvensional (http://infoenergi.wordpress.com/2007/06/17/sebelas-asumsi-keliru-tentang-harga-listrik-pltn/). Biaya yang dimaksud adalah biaya keseluruhan dari pembangunan sampai decomissioning.
Akhir kata, Pak Liek Wilardjo mengibaratkan pembangunan PLTN ini sebagai kontrak Faust. Dalam cerita Faust (dikarang oleh Goethe, banyak dijadikan bahan opera), seorang dokter (Faustus) menjual jiwanya kepada iblis Mephistopheles supaya mendapat ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Dalam hal PLTN, Faustus adalah masyarakat yang mendambakan tenaga listrik (ilmu pengetahuan) dan menjual jiwanya kepada Mephistopheles (PLTN). Sekali menjual jiwamu kepada iblis, kau takkan dapat lari, begitu juga sekali membangun PLTN, kau takkan dapat melarikan diri dari akibatnya. Itulah kenapa saya menolak dibangunnya PLTN. Masih banyak alternatif lain yang dapat dikembangkan. Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber alamnya.
Sumber :
1. Makalah Pak Liek Wilardjo dan Pak Budi Widianarko saat diskusi “Kenapa Harus Nuklir”, 11 Mei 2007 di UKSW, Salatiga (akan diupload kalau bandwidth mengijinkan
lumayan gede sih)
2. http://infoenergi.wordpress.com/2007/06/17/sebelas-asumsi-keliru-tentang-harga-listrik-pltn/
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Three_Mile_Island_accident
4. http://infoenergi.wordpress.com/2007/04/05/sisi-kelam-pltn-di-negara-berkembang/
5. http://en.wikipedia.org/wiki/Chernobyl_disaster
6. dan lain-lain
*capek juga ngetiknya*
powered by performancing firefox
powered by performancing firefox




Kalau emang banyak orang kontra pembangunan nuklir, maka kita juga harus tunjukkan sikap nyata kita. Mulai sekarang, berhematlah dalam penggunaan listrik, kita harus ingat, dalam tiap watt listrik yang kita pakai, mengalir juga rupiah negara kita untuk subsidi listrik tersebut buat pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Salam,
Sebelumnya perkenalkan nama saya Satria. Saya salah satu anggota GETON (Gerakan Tolak Nuklir) dari bagian publikasi. Saya ingin mengajak anda untuk bergabung di http://geton.nedw.org dengan memberikan tulisan atau masukan atau apalah.
Lebih jelasnya lihat di sini:
http://geton.nedw.org/kontribusi/
Terima kasih.
selamat karena anda adalah sahabat bumi.
saya coba mengemas 8 tulisan pendek ttg argumen menolak pltn di http://ruangasadirumahkata.blogspot.com. barangkali ada gunanya.
salam hangat
[...] http://dib058.wordpress.com/2007/07/13/kenapa-saya-kontra-pembangunan-pltn-di-indonesia/ [...]
Menolak memang gampang, orang Indonesia hanya bisa bicara tolak-tolak-tolak, padahal mengerjakan saja tidak, kontribusi atas solusi masalah energi tidak ada. Kalo dicermati sekarang Indonesia banyak memakai BBM (PLTD) dan Batubara (PLTU) untuk kebutuhan listrik, akibatnya apa? Khusus batubara, penambangan besar2an akan mengakibatkan lingkungan rusak, global warming, dan limbah dari batubara juga persoalan besar. Jangan bicara sahabat bumi bila masih memakai bahan bakar fosil. Bicara memang gampang.
Dan menambah barang-barang radioaktif berbahaya adalah “sahabat bumi”? hmmmm….
Anda tidak memakai bahan bakar fosil sama sekali? Really?
anda tidak menggunakan bahan radioaktif sama sekali
really?
setelah chernobyl meledak 1986 negara rusia bukan berhenti kapok bangun reaktor nuklir atau paranoid kaya wong indonesia, mereka malah 1987 malah berencana bikin reaktor 12 reaktor baru.
Dan yang sudah jadi disetujui warga negaranya, dan sudah jalan hingga hari ini adalah 4 reaktor besar dibangun gak jauh dari chernobyl yang kapasitasnya jauh lebih besar dari chernobyl, tapi untuk listrik ya.
Beda dengan chernobyl yang didesign bukan untuk listrik.
Nuklir generasi sekarang yang bukan untuk senjata, dan hanya untuk listrik jauh lebih aman
Mahal atau tidak tergantung politik ekonomi sang penguasa/presiden plus dprnya, ibarat mau pakai windows yang bayar mahal atau pakai linux yang gratis, mau bayar mahal versi hotel bintang lima, atau warteg yang murah atau terima hibah atau sedekah yang gratis, mau versi IAEA yang mahal atau versi Iran yang gratis, atau bandingin dengan negara lain mungkin lebih murah misal versi new zealand, perancis, korea selatan, korea utara
maaf sy tidak sepakat dengan anda
siapa yang ga butuh listrik
kekuatan ldaya listrik dari nuklir dan energi fosil perbandingannya jauh sekali jadi jelas aja murah, kalau mahal kenapa batan serpong mini nuklir kita sampai hari gene masih pakai buat keperluan sehari hari, ga bayar listrik, misal penerangan listrik gratis, listrik buat internet gratis, listrik buat pompa gratis.
kalau internet listriknya gratis kan indonesia bakal banyak yang jadi pintar dan cerdas, ga perlu slogan pendidikan gratis, apalagi memperbesar biaya APBN 20 %% untuk cerdas ( 20 % bisa untuk mencerdaskan yang lebih hebat lagi, jadi bukan hanya memperbesr anggaran pendidikan tapi tetap bodoh, ini namanya pembodohan bangsa, ada biaya kecil bisa cerdas tapi dibikin mahal dan hanya teriak slogan peduli pendidikan aja bisanya.
setuju….
semua butuh listrik. apa tenaga fosil ato tenaga minyak mentah aman ??
mungkin keliatannya aja yang aman. juga terasa aman di kita. tapi liat dampak buruknya buwat anak cucu kita. asap yang dihasilkan oleh PLT batu bara ato minyak jauh lebih bahaya kalo terus ngumpul di lapisan ozon kita. jangan ngaku sayang bumi kalo ga ngerti yg kaya gitu…. kalo dibilang PLTN ga aman,,PLT fosil juga sama ga amannya. berapa barel gas CO2 yg keluar selama 1 jam dari PLT fosil ? kalo kita tetep keukeuh make PLT fosil,,tinggal tunggu waktu aja ozon kita jebol dan matahari terasa panas banget.
negara kita emang kaya sama bahan bakar (batubara, minyak, dll). tapi apa cukup buwat masa depan???
daya yang dihasilin 1 pellet u-235 (ukurannya sekitar 10mm x 8mm,,klo ga salah) sama kaya 200rb barel minyak,,1500ton batu bara. bayangin…
Setuju hal besar juga memiliki resiko. mau pake apa anak cucuku kalau energinya kt habiskan krn keegoisan kt. sedang energi dahsyat ini hanya jadi teori di buku kimia dan fisika anak sma, hanya kata tanpa ada hasìl.
PEMIKIRAN-ULANG TENTANG NUKLIR
(PENDIRI GREEN PEACE PUN PRO NUKLIR)
“Pandangan saya telah berubah, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil, guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah” (Patrick Moore)
Di awal tahun 1970-an sewaktu saya membantu mendirikan Greenpeace, saya percaya bahwa energi nuklir itu sinonim dengan bencana nuklir, sama seperti pendapat rekan-rekan seperjuangan saya. Keyakinan itu telah mengilhami perjalanan Greenpeace yang pertama ke pantai karang Barat-Laut untuk memrotes percobaan bom hidrogen di Kepulauan Aleutian di Alaska.
Tiga puluh tahun berlalu, pandangan saya telah berubah, dan seluruh gerakan pro-lingkungan kiranya perlu memutakhirkan pendapatnya juga, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah.
Marilah kita kaji pemancar gas rumah-kaca yang terbesar di dunia: batubara. Biarpun batubara memberikan listrik murah, tetapi pembakaran batubara di seluruh dunia menciptakan sekitar 9 milyar ton CO2 per tahun, yang sebagian besar akibat dari pembangkitan listrik. Pembangkitan listrik yang membakar batubara menyebabkan hujan asam, kabut-asap (smog), penyakit pernafasan, kontaminasi merkuri, dan memberi kontribusi utama pada gas rumah-kaca dunia.
Di lain pihak, sebanyak 441 PLTN yang kini beroperasi di seluruh dunia telah menghindari emisi hampir 3 milyar ton CO2 per tahun ─ yang setara dengan gas-buang berasal lebih dari 428 juta mobil.
Untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap batubara, kita harus bekerja bersama mengembangkan infrastruktur energi nuklir secara global. Energi nuklir itu bersih, sepadan dalam hal ongkos (cost effective), dapat diandalkan dan aman.
Di tahun 1979 Jane Fonda dan Jack Lemmon keduanya telah memenangkan piala Oscar untuk perannya dalam “The China Syndrome”. Di dalam film, sebuah reaktor nuklir mengalami pelelehan yang mengancam kehidupan seluruh kota.
Duapuluh hari setelah film dahsyat itu diputar-perdanakan, sebuah pelelehan reaktor di Three Mile Island benar-benar telah menggetarkan seluruh negara.
Pada waktu itu tidak seorangpun memerhatikan bahwa Three Mile Island itu sebenarnya adalah sebuah kisah sukses. Struktur beton yang membentuk sungkup reaktor (kontenmen, containment) telah menunaikan tugasnya dengan baik: bangunan sungkup telah menghalangi keluarnya radiasi ke lingkungan. Biarpun reaktor menjadi tidak berfungsi, tetapi tidak ada korban luka atau meninggal di antara publik maupun pekerja nuklir.
Di Amerika Serikat hari ini terdapat 103 reaktor nuklir yang diam-diam menyajikan 20% kebutuhan listriknya. Sekitar 80% penduduk di sekitar PLTN sampai jarak 10 Km itu menyetujui kehadiran PLTN-mereka. Tingkat persetujuan yang tinggi itu tentulah tidak termasuk pekerja PLTN yang memiliki kepentingan dalam mendukung pekerjaan mereka yang aman, dan bergaji tinggi. Biarpun saya tidak hidup dekat dengan PLTN, tetapi sekarang saya praktis berada di pihaknya.
Saya bukanlah sendirian di antara aktivis dan pemikir lingkungan kawakan yang telah dan tengah berubah pikiran dalam subyek ini. James Lovelock, bapak dalam teori Gaia dan ilmuwan atmosfir terkemuka, percaya bahwa energi nuklir adalah satu-satunya energi yang menghindari perubahan iklim yang mendatangkan bencana. Steward Brand, pendiri dari The Whole Earth Catalogue dan pemikir ekologi holistik, mengatakan bahwa gerakan lingkungan haruslah merangkum energi nuklir untuk mengurangi ketergantungannya terhadap bahanbakar fosil. Almarhum Bishop Hugh Montefiore, pendiri dan direktur Friends of the Earth Inggris, dipaksa mengundurkan diri sewaktu dia menyajikan sebuah artikel pro-nuklir dalam sebuah lembaran-berita gereja. Pendapat seperti itu telah ditanggapi sebagai semacam inquisition (hukuman karena menyalahi paham ajaran gereja) dari kelompok kepadrian yang anti-nuklir.
Namun terdapat tanda-tanda bahwa sikap itu sedang berubah, bahkan sikap di antara para pelaksana kampanye yang paling getol. Saya menghadiri Pertemuan Iklim Kyoto di Montreal pada bulan Desember 2005, di situ saya berbicara di depan hadirin yang memenuhi ruangan tentang pertanyaan masa depan energi yang berkelanjutan. Saya memberi argumen bahwa satu-satunya jalan untuk mengurangi emisi bahan-bakar fosil dari pembangkitan listrik adalah melalui program yang agresif dalam penggunaan energi terbarukan (listrik hidro, geotermal, pompa-panas dan angin) plus nuklir. Juru bicara Greenpeace adalah orang pertama yang mengambil mikrofon pada saat acara tanya-jawab dan saya mengira akan mendengar kata-kata keras darinya. Tetapi sebaliknya, ia mulai dengan mengatakan bahwa ia menyetujui banyak hal yang saya sampaikan, kecuali tentu saja, potongan ”plus nuklir” itu. Biarpun demikian, saya telah dapat merasakan bahwa pijakan bersama sangatlah mungkin dicapai.
Energi angin dan matahari mempunyai tempat di sini, tetapi karena tidak selalu kontinu dan tidak dapat diprediksi, maka kedua jenis energi itu tentu tidak dapat mengganti pembangkit listrik beban-basis yang besar seperti pembangkit listrik batubara, nuklir dan listrik-hidro. Gas-alam, bahanbakar fosil itu, kini sudah terlalu mahal, dan harganya begitu mudah berubah sehingga sangat berisiko untuk digunakan sebagai pembangkit beban-basis yang besar. Kalau sumber listrik-hidro biasanya dibangun untuk kapasitas besar, maka nuklir, sebagai ganti eliminasi batubara, menjadi satu-satunya substitusi yang dapat diperoleh dalam skala besar, sepadan dalam ongkos (cost effective) dan aman. Begitu sederhana!
Memang, bukan tidak ada tantangan nyata ─ juga bukan tidak ada berbagai mitos ─ yang berkaitan dengan energi nuklir. Masing-masing mitos itu perlu dipertimbangkan:
Mitos 1: Energi nuklir itu mahal
Fakta: Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak-mahal. Di tahun 2004, rata-rata ongkos produksi listrik di Amerika Serikat adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batubara dan listrik-hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa mendatang.
Mitos 2: PLTN itu tidak aman
Fakta: Kalau dapat dikatakan bahwa kecelakaan Three Mile Island itu suatu kisah sukses, maka kecelakaan di Chernobyl itu tidak dapat dikatakan demikian. Kecelakaan Chernobyl itu sepertinya menunggu akan terjadi. Model awal dari reaktor Uni Soviet tidak menggunakan bejana kontenmen (sungkup, containment vessel), dalam hal desain dikatakan sebagai tidak-aman melekat, sedang operatornya kemudian meledakkannya.
Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa hanya 56 kematian dapat dikaitkan dengan kecelakaan itu, sebagian besar korban adalah akibat radiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api. Memang tragis sekali korban kematian itu, namun angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kecelakaan di tambang batubara sebanyak 5000 jiwa seluruh dunia setiap tahun. Atau jika dibandingkan dengan 1,2 juta jiwa yang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan mobil. Tidak seorangpun meninggal dalam sejarah program nuklir untuk sipil di Amerika Serikat. (Disayangkan, bahwa ratusan pekerja tambang uranium meninggal pada tahun-tahun awal industri ini. Hal itu telah sejak lama diperbaiki).
Mitos 3: Sampah nuklir itu akan berbahaya selama ribuan tahun
Fakta: Dalam 40 tahun, bahanbakar yang telah digunakan hanya akan memancarkan seperseribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahanbakar itu dikeluarkan dari reaktor. Dan sebenarnya sangatlah tidak benar jika dikatakan itu sebagai sampah (atau limbah), karena 95% potensi energinya masih tersimpan di dalam bahanbakar bekas pada siklus pertama.
Sekarang Amerika Serikat telah mencabut larangan daur-ulang bahanbakar bekas, dengan demikian akan dimungkinkan pemanfaatan energi itu serta akan banyak mengurangi jumlah sampah yang harus diolah atau disimpan. Bulan lalu, Jepang telah bergabung dengan Perancis, Inggris dan Rusia dalam kegiatan daur-ulang bahanbakar nuklir ini.
Mitos 4: Reaktor nuklir itu rawan terhadap serangan teroris
Fakta: Beton bertulang yang tebalnya satu-setengah meter melindungi isi bangunan kontenmen dari luar maupun dari dalam. Bahkan kalau sebuah jumbo jet menabrak reaktor dan merusak kontenmen, reaktor tidak akan meledak. Ada banyak jenis fasilitas yang lebih rawan termasuk pabrik pencairan gas alam, pabrik kimia dan sejumlah sasaran politik.
Mitos 5: Bahan-bakar nuklir itu dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir
Fakta: Senjata nuklir sudah tidak lagi harus tak-terpisahkan dengan PLTN. Teknologi centrifuge (teknologi pengkayaan uranium-235) kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Iran misalnya, tidak memiliki reaktor yang menghasilkan listrik, padahal negara ini telah memiliki kemampuan membuat bom nuklir. Ancaman senjata nuklir Iran sama sekali dapat dibedakan dari pembangkit energi nuklir untuk maksud damai.
Selama dua puluh tahun, satu di antara alat yang paling sederhana ─ parang ─ telah dipakai membunuh jutaan manusia di Afrika, jauh lebih banyak dari pada korban yang meninggal di Hiroshima dan Nagasaki digabungkan. Tetapi toh tidak seorangpun yang mengusulkan melarang parang, karena parang adalah alat yang sangat berharga di negara berkembang.
Satu-satunya pendekatan pada isu penyebaran senjata nuklir adalah menempatkan isu itu pada agenda internasional yang lebih tinggi dan menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan, untuk menghalangi pemerintahan atau teroris dari pemakaian bahan nuklir untuk tujuan perusakan.
Teknologi baru, seperti misalnya sistem proses-ulang yang akhir-akhir ini diperkenalkan di Jepang (yang tanpa proses pemisahan plutonium dari uranium) akan membuat manufaktur senjata dengan menggunakan bahan nuklir keperluan sipil, menjadi lebih sulit.
Lebih bersih dan lebih hijau
Sebagai bonus (tambahan) dalam mengurangi emisi gas rumah-kaca serta bergeser dari mengandalkan bahanbakar fosil, energi nuklir menawarkan dua manfaat yang ramah-lingkungan sekaligus.
Pertama, listrik nuklir menawarkan jalan yang penting dan praktis ke arah ′ekonomi hidrogen′. Hidrogen sebagai sumber yang menghasilkan listrik menawarkan janji untuk energi yang bersih dan hijau. Berbagai perusahaan mobil melanjutkan pengembangan sel bahanbakar hidrogen dan teknologi ini, dalam waktu yang tidak terlalu jauh di masa depan, akan menjadi produsen sumber energi. Dengan menggunakan kelebihan energi panas dari reaktor nuklir untuk menghasilkan hidrogen, maka dapat diciptakan produksi hidrogen dengan harga terjangkau, efisien, serta bebas dari emisi gas rumah-kaca. Dengan demikian produksi hidrogen ini dapat dikembangkan untuk menciptakan ekonomi energi hijau di masa depan.
Kedua, di seluruh dunia, energi nuklir dapat menjadi solusi terhadap krisis lain yang tengah berkembang: kekurangan air bersih yang harus tersedia bagi konsumsi manusia dan irigasi bagi tanaman dasar (crop). Secara global, proses desalinasi (air-laut) telah dan tengah dipakai guna membuat air bersih. Dengan menggunakan kelebihan panas dari reaktor nuklir, air laut dapat ditawarkan, sehingga permintaan terhadap air bersih yang selalu bertambah akan dapat dipenuhi.
Kombinasi energi nuklir, energi angin, geotermal dan hidro adalah cara yang aman dan ramah-lingkungan dalam memenuhi permintaan energi yang selalu bertambah. Dengan berbagi informasi, jaringan konsumen, pakar lingkungan, akademisi, organisai buruh, kelompok bisnis, pemimpin masyarakat dan pemerintah kini telah disadari manfaat dari energi nuklir.
Energi nuklir adalah jalan terbaik untuk menghasilkan listrik beban-dasar yang aman, bersih, dapat diandalkan, serta akan memainkan peranan kunci dalam pencapaian keamanan (penyediaan) energi global. Dengan perubahan iklim sebagai puncak agenda internasional, kita semua harus mengerjakan bagian kita untuk mendorong renaisans (kebangkitan kembali) energi nuklir.
Patrick Moore adalah seorang pakar ekologi dan lingkungan. Ia memulai kariernya sebagai seorang aktivis dan pendiri Greenpeace, di mana ia menempati jabatan puncak selama 15 tahun. Dr. Moore dahulu mendirikan perusahaan asalnya Greenspirit Enterprises dan sekarang adalah Ketua dan Pakar Utama dari Greenspirit Strategies Ltd, yang berbasis di Vancouver dan Winter Harbour, Canada. (www.greenspiritstrategies.com) E-mail: pmoore@greenspirit.com
Diterjemahkan dari naskah asli:
Moore, Patrick – ”Nuclear Re-Think”, IAEA Bulletin, Volume 48/1. September 2006. http://www.iaea.org
dari buku radiasi di sekitar kita, orang yang kerja di PLTN itu kena radiasi 10 kali LEBIH KECIL dari orang yang naik pesawat terbang… kenapa ya pak??
pak, anda tiap hari kan terkena radiasi dari matahari. kok anda tidak menutup matahari biar tidak buang2 radiasi??
anda sadar tentang hal ini??
seberapa besar radiasi yang dikeluarkan tembok2 rumah dan asbes kita??
bukankah kampanye tentang ini lebih penting??
dan mengapa rumah sakit kita berani melakukan pembunuhan besar2an dengan mengadakan pemeriksaan rontgen?? anda tahu kan, kalo rontgen itu menembakkan radiasi ke tubuh dengan sengaja??
kok yang ini tidak dilarang ya…
oh iya, kasus kemoterapi juga. kok tidak dilarang??
menyembuhkan kanker dengan radiasi. padahal katanya radiasi bikin kanker ya…
bisa jawab pertanyaan saya pak??
oh iya pak, dirumah anda radiasi elektromagnetik sudah hilang belum pak??
oh iya pak, kita kan kena radiasi tiap hari. kok kita masih sehat ya….
bisa jawab pak??
kalau anda bisa menjawab, insya Allah, jawaban anda adalah jawaban worst case kalo radiasi PLTN menyebar dan mengenai manusia…
sebelum menolak PLTN yang radiasinya dikungkung…
sebaiknya tolak dulu PLTN yang tidak ada kungkungnya (matahari)
maaf sebelumnya
menurut saya sumber energi pengganti batu bara satu – satunya hanya nuklir.
kalo memang bapak tidaj tahu apa itu nuklir, jangan berpendapat seolah – olah nuklir itu adalah musuh. padahal setiap detik kita menikmati radiasi dari berbagai sumber seperti matahari. bahkan semua barang2 rumah kita itu mengeluarkan radiasi.
dan buktinya sampe sekarang kita masih sehat2 aja kan.
dan bagi semua yang menolak adanya nuklir di negeri kita ini, tolong jangan lagi gunakan hp, jgn mkn beras, jgn naik mobil dan motor, jgn bangun rumah dengan tembuk, dan yg paling penting jagn menikmati sinar matahari lagi!!!
tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa radiasi karena Tuhan telah menciptakan radiasi dari bumi ini terbentuk. dan Tuhan memang maha adil, karena tuhan menciptakan radiasi dan nuklir senganja untuk kesejahteraan hidup manusia.
untuk masalah pltn. dalam desain pembangunan pltn, pltn akan dibangun dengan 7 lapis kungkungan. dan bila terjadi kecelakaan, zat radioaktif tidak aakan terlepas ke lingkungan. bila ada yang lepas maka aktivitasnya sudah sangat rendah dan tidak berarti apa2 untuk lingkungan sekitar dan manusia.
oh iya pak, kalo anda menganggap radiasi dan nuklir itu bahaya, jangan lupa beli alat detektor radiasi sperti surveymeter, TLD ataupun detektor2 lain supaya waspada adanya radiasi lingkungan yang tiap detik kita merasakannya dan menurut bapak ini bahaya.
Hhahaha lucu juga baca komen2 ya. Kalo baca tulisan orang yang ngerti emang enak dan gak ngawur (setuju pltn). Tapi kalo baca tulisan orang yg gak ngerti (tolak/anti pltn), hahaha pengen ketawa sendiri. Karena mereka cuma katanya dan dapet data dari sumber yg gak jelas. Liek Wilarjo? Apa dia fisikawan?
Segala sesuatu itu serahkan aja ke ahlinya pasti lebih sip. Ayo Indonesiaku, terus kembangkan teknologi, mau nuklir kek, batubara kek, air kek, angin atau teknologi yang lainnya. Terserahlah yang penting negeriku bisa maju seperti negeri jepang, jerman, usa, perancis inggris dll.
Dear all
Ada yang bisa bantu untuk memberikan penjelasan….
Kepentingan LSM-LSM yang anti PLTN itu apa ya?
maksud saya LSM asing yang dari luar negeri (sy yakin mereka yang ada di balik aksi penolakan dan memanfaatkan LSM2 lokal, Karena kalo LSM lokal sih kita semua juga paham, mereka sih ikut siapa yang biayain aja..
Regards
LSM semacam greenpeace dibuat agar negara2 berkembang tidak ikut2an meniru teknologi nuklir negara2 maju..sehingga perkembangan teknologi negara2 berkembang lambat…
coba baca http://blognuklir.wordpress.com/2009/04/24/kontroversi-pltn-di-iran-dan-indonesia/